SHARE
Sumber Foto: gigsplay.com

Festival Do-Whoopee feat. Marsh Kids, Level II, The Foundry at SCBD, Jakarta, Sabtu, 16 Agustus 2014 

Ade Paloh, vokalis utama dari grup musik seminal Sore, adalah sosok yang, nampaknya, asik. Saya tidak mengenalnya, belum pernah mengucapkan sepatah katapun kepadanya. Musik yang ia buat pun tidak mencerminkan apapun—bagaimanapun juga, musik adalah rekaman pikiran; keabsahan dari perasaan yang mungkin tercermin adalah milik sang pencipta—artinya, pendengar hanya bisa puas menerka, sama seperti saya hanya bisa melihat sosok seorang Ade Paloh di panggung, Sabtu kemarin, saat ia bermain bersama Marsh Kids.

Dibentuk pada 2012, Marsh Kids digawangi Ade sendiri di gitar dan vokal, Sigit Pramudita dari Tigapagi di gitar dan vokal, Billy Saleh dan Giovanni Rahmadeva dari Polka Wars secara berurutan di gitar dan drum, M. Fahri dari Duckdive di synthetizer, dan Binsar Tobing dari San Teletone di bas. Bapak-bapak bertopi a la Americana yang mengaku mengemban musik di genre Tornado Pop/Flamboyant Rock menawarkan musiknya secara konseptual: perpaduan antara telinga-telinga mereka yang kemudian menciptakan identitas (dan entitas) yang terpisah dari band-band utama mereka. Dan hasilnya pun menyegarkan: Seolah-olah Marsh Kids hanya terdiri oleh sarjana-sarjana baru lulus yang pengalaman musik formatifnya terbentuk melalui latihan ala kadarnya.

Dalam rangkaian acara serial Do Whoopee yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB, di The Foundry, Jakarta Selatan, Strange Fruit, band psikedelik yang masih mengambil langkah-langkah awal, tampil secara enerjetik dan teatrikal. Penampilan grup musik asal Jakarta ini sangat dipandu oleh kemauan mereka untuk bereksperimen—terutama dalam penggunaan teknik loop dalam aransemen musik indie rock yang tergolong biasa di akhir set (selagi sang vokalis mengenakan kostum kelinci).

Marsh Kids mengambil alih panggung pada pukul 22.00 dengan banyolan khas band yang memang tidak menjadikan keseriusan sebagai kalkulasi. Bisa dibilang, Marsh Kids adalah band tersantai (dan tergatal) di kancah musik Indonesia dewasa ini. Seperti yang saya bilang, Ade memulai set dengan candaan seperti memanggil Sigit perfeksionis karena lama mengotak-atik gitar, stage banter, dan menyalakan rokok selagi rekan-rekannya melakukan persiapan terakhir.

Performa mereka pun tidak semata-mata berantakan dalam arti bahwa mereka menggunakan kesenangan—betapa sulitnya mengatakan itu—sebagai alasan untuk ketidakseriusan. Set yang dimulai dengan alunan musik santai—terlalu kalem untuk rock, terlalu gatal untuk jazz—berjalan dengan mulus. Materi-materi yang dipaketkan dalam album pertama Marsh Kids berjudul “The Many Failings of Bugsy Moonblood” (akan dirilis September awal) bisa dibilang meninggalkan kesan yang baik bagi pendengar yang sudah siap untuk tidak lagi melihat Marsh Kids sebagai supergrup.

Bahkan, alangkah beratnya untuk menyebut Marsh Kids sebagai sebuah supergrup, di semua pengertian semantik apapun. Tidak adil rasanya. Set yang terasa singkat ini, dengan kresendo gitar yang lantang, melankolia yang pantas dan lirik yang masih kabur, dipenuhi oleh apapun yang Sore atau Tigapagi atau San Teletone tidak cerminkan dalam idiosinkrasi mereka masing-masing. Mirip mungkin, tapi benar-benar terpisah. Untuk menetapakan genre dalam musik Marsh Kids juga sulit (tidak perlu, mungkin): Inclination, single pertama Marsh Kids, adalah lagu indie pop yang tidak terlalu indie pop. Untuk kemudahan penulisan, mari menjadikan Tornado Pop/Flamboyant Rock sebagai genre yang sejauh ini pantas.

Kesenangan adalah tema penampilan dari Marsh Kids. Kostum jadul juga terkesan pantas, namun tidak menenggelamkan musik berkualitas mereka. Banyak yang menjadikan tema visual sebagai penuntun penampilan atau identitas grup musik, namun bagi Marsh Kids, dilihat dari penampilan mereka kemarin, tidak mementingkan hal itu. Yang penting senang-senang, musik berkualitas akan keluar sendirinya.